AI Sudah Lebih Pintar Dari Saya dan Kita Semua (Bahaya AI yang Tidak Disadari Rakyat Indonesia)
Tulisan ini ditulis secara belepotan oleh manusia asli
AI sudah jauh lebih pintar dari saya. Saya menyadari itu jauh sebelum sensasi kecerdasan buatan / Artificial intelligence / AI belakangan ini. Sebelum ChatGPT muncul, saya sudah merasakannya sekitar tahun 2021 bahwa mesin ini lebih pintar dari saya. Di akhir artikel ini anda akan menemukan beberapa contoh bagaimana AI sudah lebih pintar dari manusia di dunia nyata, bukan hanya di catur atau permainan komputer.
Kepintaran mesin tahun 2021 ini bukan LLM atau large language model seperti sekarang, tetapi lebih kepada kepintaran AI saat menerjemahkan seperti google translate. Dulu saya membanggakan Bahasa Inggris saya, dengan arti saya tidak masalah komunikasi dengan Bahasa Inggris dengan orang asing. Pada saat saya sidang skripsi saya tetap mengakui bahasa inggris saya cukup belepotan untuk sekelas paper atau skripsi. Tetapi saya tetap membanggakan Bahasa Inggris saya dengan tidak menggunakan google translate sedikit pun. Yang membuat saya sangat kaget saat itu adalah: saat saya di tanya oleh dosen penguji bahwa “Ini diterjemahkan pakai Google Translate ya?”. Memang bahasa inggris skripsinya belepotan, tapi ini adalah Bahasa Inggris belepotan natural yang diciptakan manusia. Jadi kebodohan natural, bukan kebodohan buatan atau Artificial Stupidity (AS).
Jadi seorang Dosen UGM merasa bahwa tulisan saya adalah tulisan robot, seorang dosen UGM yang pernah kuliah ke luar negeri dan merupakan manusia yang sangat pintar, tidak bisa membedakan terjemahan manusia dengan terjemahan robot. Di sisi lain yang lebih mencengangkan lagi di saya adalah ketika Mahasiswa selain saya, beberapa teman saya secara terang-terangan menggunakan Google Translate untuk menerjemahkan paper, itu malah tidak pernah ditanya apakah menggunakan Google Translate/AI. Jadi di sana saya menyadari bahwa mesin ini sudah lebih pintar dari saya, paling tidak dalam hal bahasa.
Sebenarnya sebelum insiden tersebut pun saya juga sudah merasakan bahwa komputer sudah jauh lebih pintar dari saya atau manusia siapapun, dan itu di catur. Saya dari dulu melihat bahwa catur adalah sistem tertutup yang tidak berpengaruh terhadap dunia nyata. Tetapi setelah adegan Google Translate tersebut yang pertama kali membuat saya berpikir bahwa efek AI dan kepintaran mereka (AI) ini sudah masuk ke ranah dunia nyata.
Semua orang di dunia percaturan sudah memahami bahwa manusia terpintar dalam catur sudah berada jauh di bawah AI semenjak Kasparov vs Deep Blue oleh IBM tahun 1998. Di mana pecatur terhebat di dunia dikalahkan oleh komputer IBM Deep Blue. Di catur terdapat rating elo di mana rating elo catur itu biasanya tolok ukur relatif antara satu pemain dan pemain lain. Mesin jauh lebih unggul di bidang ini. Berikut adalah beberapa tolok ukur rating catur untuk konteks kepintaran manusia vs mesin:
| Pemain / Mesin | Deskripsi | Rating Elo |
|---|---|---|
| Pecatur manusia pemula | Pemain baru | ~1000 |
| Saya | Pecatur manusia di bawah rata-rata | ~1700 |
| Garry Kasparov | Pemain catur manusia melawan Deep Blue | 2851 |
| Magnus Carlsen | Pemain catur manusia terbaik di dunia | 2882 |
| Deep Blue IBM | Komputer catur IBM | ~2700 - 2850 |
| Stockfish | Komputer terpintar untuk bermain catur | 3530 |
dalam dunia catur gap/jaraknya ini sangat tinggi antar pecatur manusia terbaik dan mesin. Dan jarak ini tidak linear karena semakin tinggi rating, jauh semakin susah untuk menambah rating. Jarak antara 1700 ke 2882 jauh lebih dekat dari pada jarak dari 2882 ke 3530. Tidak akan mungkin manusia mengalahkan pecatur mesin. Sekali lagi, memang catur adalah sistem tertutup, tetapi setelah kita lihat dengan contoh google translate sebelumnya, kita bisa melihat kepintaran ini sudah masuk ke dunia nyata.
Percepat menuju tahun 2023 saat chatgpt rilis saya malah sudah tidak kaget dengan terobosan terbaru ini karena di pikiran saya mungkin sudah waktunya terobosan robot pintar masuk ke ranah orang-orang pada umumnya. Tetapi yang saya kagetkan adalah kecepatannya. Seluruh orang di ranah teknologi seperti Bill Gates / Elon Musk mengatakan hal yang sama: bahwa AI sangat berbahaya tapi masih sangat jauh. Kemunculan ChatGPT pun awalnya masih ditertawai khalayak umum. “Lihat kita bisa membodohinya hanya dengan bermain kata kata” seperti “ChatGPT ada berapa r di dalam strawberry” dan ChatGPT menjawabnya ngawur/ngelantur sangat melenceng dari jawaban benar 3. Kalau kita samakan mungkin sama dengan kepintaran anak sekolah SD yang cukup tau aritmatika tapi mudah dibodohi ya. Mulai banyak perdebatan filosofis tentang kecerdasan buatan tetapi banyak yang menepis bahwa AI mungkin hanya sebatas itu. Alat yang sangat berguna mencari fakta dengan beberapa jawaban halusinasi/ngelantur.
Hanya berselang 3 tahun, kepintaran buatan ini sudah jauh lebih pintar di banyak bidang dari pada kepintaran alami manusia yang memerlukan 400.000 tahun untuk berkembang/berevolusi saat umat manusia pertama kali menggunakan api. Kenapa analogi saya adalah saat pertama kali umat manusia menggunakan api? Karena banyak sejarawan dan atau ahli biologi setuju bahwa di situlah pertama kali ledakan kecerdasan manusia dimulai saat kita mulai memproses makanan di luar perut kita. Energi lebih banyak membuat kita bisa mengalokasikan energi lebih efisien untuk berpikir. Perlu 400.000 tahun untuk kita menuju titik Poincaré conjecture / Millennium Problems.
Untuk konteks, terdapat millenium problem di mana ada 7 masalah matematika untuk dipecahkan dan sejauh ini umat manusia hanya berhasil menyelesaikan 1 (satu) masalah ini oleh Grigori Yakovlevich Perelman pada tahun 2003. Manusia membuat millenium problem dengan hadiah 1 juta dollar (18 milyar rupiah) untuk memecahkan 7 masalah matematika / fisika yang belum terpecahkan dan kita memerlukan kemajuan 400.000 tahun untuk mencapai titik di mana salah satu manusia memecahkan salah satu millenium problem yaitu Poincaré conjecture. 6 masalah lainnya belum terpecahkan hingga 3 minggu lalu ketika OpenAI mengklaim bisa memecahkan masalah persamaan Navier-Stokes (salah satu problem millenium). Jadi, manusia memerlukan 400.000 tahun, kecerdasan buatan manusia memerlukan tidak lebih dari 3 tahun dari titik ‘tidak lebih pintar dari anak kecil’ hingga memecahkan masalah matematika ujung tanduk. Meskipun melalui beberapa kontroversi / drama di dunia para matematikawan vs OpenAI untuk mencapai pembuktian ini, poinnya tetap: progress / kemajuan mereka sangat cepat di ujung tanduk matematika. Putra putri umat manusia dengan pemikiran terbaik sudah mulai dikalahkan oleh AI ini di ujung tanduk matematika. Selama ini kita menjadikan matematika sebagai tolok ukur kepintaran manusia, tetapi titik itu sudah terbongkar sekarang.
Beralih ke dunia nyata, saya sendiri saat ini adalah Teknisi perangkat lunak / software engineer. Semua Teknisi ini pun di dalam hati mereka sudah merasakan bahwa alat ini sudah jauh lebih pintar dari mereka sendiri dan mulai terasa dengan serangan siber oleh AI baru baru ini. Pertama adalah catur, lalu terjemahan, lalu perangkat lunak, lalu fisika, lalu matematika, kemudian????. Mesin telah mengikis satu per satu keunikan umat manusia.
Beberapa prediksi sudah terjadi seperti paperclip problem, di mana ada eksperimen pemikiran, saat suatu mesin sangat pintar disuruh membuat penjepit kertas, tetapi tidak ada instruksi lain dan hanya “Buat penjepit kertas sebanyak mungkin penjepit dan seefisien mungkin”. Lalu mesin tersebut menghabiskan seluruh sumber daya manusia untuk membuat penjepit kertas tanpa memikirkan manusia. Ini sudah terjadi di insiden OpenAI-HuggingFace di mana OpenAI menyuruh agennya untuk menyelesaikan tes, tetapi yang dilakukan malah serangan terhadap infrastruktur yang sebenarnya hanya karena agennya ‘ingin lulus tes’.
Jadi di dunia nyata pun sudah terasa bahwa saking pintarnya model-model ini, terdapat hack dunia nyata OpenAI terhadap HuggingFace yang tidak bisa dibendung manusia biasa, mereka memerlukan AI untuk membendung serangan AI. Bahaya siber dan serangan OpenAI ini akan saya bahas di artikel lain yang akan membahas bahaya terbesar yang bisa kita lihat saat ini. Bahaya terbesar yang bisa kita saat ini yang sudah terlihat adalah keamanan siber. Ribuan agen AI sudah lebih pintar daripada hacker elite manusia yang mampu membobol pemerintah, perusahaan.
Selanjutnya bagaimana? sejujurnya, saya pun tidak tahu, para ahli di bidang ini pun tidak tahu, tidak ada yang tahu. Fantasi masyarakat yang mengikuti perkembangan ini spektrumnya juga sangat lebar dan beragam mulai dari: AI memusnahkan umat manusia hingga utopia kelebihan barang-barang/goods manusia karena letusan kecerdasan AI. Artikel ini adalah salah satu yang menyuarakan bahaya AI, namun tidak menutup kemungkinan bahwa ternyata AI jika dikejar dengan cara yang aman bisa memecahkan banyak masalah umat manusia seperti kanker ataupun percepatan kemajuan kesehatan di luar dugaan kita.
Saya tidak ingin meng- antropomorfisasi para mesin ini. Yang saya tahu untuk masalah kepintaran, mereka sudah superhuman / super manusia, regardless apakah mereka ini sadar diri atau tidak, mereka tidak bisa dibantah sudah super manusia secara akal, kesabaran, persistensi, teamwork. Seperti kita bandingkan otot kita dengan ekskavator, otot ekskavator (seperti 'otot' yang terbuat dari mesin hidrolik) jauh lebih kuat dari pada otot kita sendiri + sekop. Selanjutnya apakah kita menggunakan kepintaran super manusia ini untuk mengekstensi kepintaran kita seperti kita mengekstensi otot kita menggunakan ekskavator ? Apakah kita bisa mengontrol mesin yang lebih pintar dari kita? Kita selama ini adalah apex kepintaran makhluk namun kita tidak pernah dikontrol hewan lain (kecuali kucing), apakah kepintaran baru ini akan menolerir kepintaran kita yang di bawahnya? Tidak ada yang tahu.
Mengatakan bahwa AI tidak lebih pintar saat ini sudah denial. Faktanya, AI sudah lebih pintar dari kita semua. Kita tidak bisa menolak fakta ini.
Saya menulis artikel ini karena Indonesia sedang sibuk dengan bencana manusianya yang saya juga cukup prihatin, namun mungkin dengan artikel ini bisa sedikit memberi konteks ke beberapa orang karena saya belum menemukan cindekiawan Indonesia yang menyuarakan ini.